« Kenapa jurusan Kelautan/Oseanografi-ITB tidak prospektif di Indonesia? *(katanya) »

« Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekedar menjadi jongos-jongos dikapal, bukan. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera.  Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri. »(Ir. Soekarno, 1953)

Hello everyone/Bonjour tout le monde,

Perkenalkan, nama saya Jefry Simanjuntak, alumni Oseanografi ITB (OS-ITB ’10) yang dengan tulisan ini ingin berbagi pandangan saya « Kenapa jurusan kelautan/oseanografi  tidak prospektif di Indonesia? *(katanya) ».

Tulisan ini murni merupakan subjektifitas pribadi tanpa merepresentasikan jurusan, institusi, ataupun himpunan dari keilmuan saya.  Bagus jika tulisan ini dapat dipergunakan sebagai kritik (yang membangun)/motivasi bagi orang lain yang (mungkin) ragu/tersesat dalam keilmuan oseanografi/kelautan.

Sayapun di sini berbagi bukanlah sebagai seorang pakar ilmu kelautan/ maritime experts Indonesia. Saya hanyalah seorang (mantan) mahasiswa yang dahulu tidak mau dan merasa salah jurusan di ITB, memohon untuk pindah jurusan dari Oseanografi, tapi akhirnya malah menemukan passion dan bermimpi berusaha untuk membangun Indonesia dalam sektor kemaritiman. (baca juga: « Kenapa Tuhan Menempatkan Saya di Jurusan Oseanografi-ITB? »)

Puji Tuhan karena keilmuan saya di bidang kemaritiman Indonesia, saya terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas FITB-ITB 2013, mengikuti program pertukaran pelajar TFLEaRN 2014 di program Maritime Studies, NTU (Singapura),  dan sekarang kembali melanjutkan studi Master of Hydrodynamics and Ocean Engineering di Ecole Centrale de Nantes melalui dukungan perusahaan migas asal Prancis pada tahun 2015. (baca juga: How Could I [almost failed] Obtain This ITB-Oil and Gas Company’s Master Scholarship)

Tanpa penjelasan lebih panjang lagi, mari kita berdiskusi  » kenapa jurusan kelautan/maritim di Indonesia tidak laku prospektif di Indonesia » *(katanya):


Karena masih banyak yang keliru dengan jurusan « kelautan » yang notabene selalu disebut « oh, jurusan yang berhubungan dengan ikan ikan di laut itu yaa?« , saya ingin membahas beberapa jurusan yang terkait dengan keilmuan kelautan:

1. Oseanografi (Fisika, Kimia, Biologi, Geologi, Komputasi)

No, Oseanografi bukanlah jurusan « teknik » walaupun berada di naungan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB-ITB).  Itulah kekeliruan yang selalu dipertanyakan banyak orang.  Keilmuan ini merupakan SAINS multi-disiplin (Fisika, Kimia, Biologi, Geologi, Komputasi) yang mempelajari seluruh aspek kelautan dari laut dalam hingga pesisir untuk menjelaskan fenomena alam seperti: pasang surut air laut, arus dan gelombang, proses transport sedimentasi, proses El-Nino dan La-Nina, pergerakan lempeng samudra dll. hingga aplikasi oseanografi (applied oceanography) seperti: pemodelan tumpahan minyak, simulasi arus dan gelombang laut, interaksi laut-atmosfer untuk analisis perubahan iklim, dan model numerik untuk mitigasi bencana Tsunami.

2.  Teknik Kelautan

Berbeda dengan Oseanografi, Teknik Kelautan merupakan ilmu « rekayasa » yang mempelajari bangunan dan struktur yang berhubungan dengan laut.  Maka dari itu sebenarnya « Teknik Kelautan » lebih cenderung mirip dengan « Teknik Sipil », bedanya orang sipil mempelajari bangunan di darat sedangkan orang kelautan mempelajari bangunan di laut (yang biasa kami sebut « Sipil Basah »).  Namun kebanyakan di beberapa universitas luar negeri seperti di Ëcole Centrale de Nantes, Prancis ataupun Massachusetts Institute of Technology, Amerika, jurusan ini berada dalam naungan Fakultas Teknik Mesin karena di negara berkembang keilmuan ini berfokus dan juga bermula dari industri perkapalan.

Beberapa mata kuliah jurusan yang ada di « Teknik Kelautan » di Indonesia pun lebih cenderung ke arah « rekayasa » seperti dinamika struktur, mekanika teknik, perencanaan bangunan lepas pantai, struktur pantai, dll sehingga kebanyakan lulusannya mendominasi industri maritim di Indonesia yang membutuhkan konstruksi bangunan di laut seperti industri pelabuhan ataupun industri minyak dan gas.  Namun dalam industrial real work, praktisi teknik kelautan juga membutuhkan kerjasama dengan ahli oseanografi yang memiliki kompetensi dalam melakukan simulasi numerik gelombang dan arus laut dengan ekstraksi data angin serta spektrum gelombang pasang surut.  Hasil model dalam simulasi numerik (menggunakan komputer) ataupun simulasi fisik (dalam laboratorium) yang dikembangkan oleh ahli oseanografi, akan digunakan oleh ahli teknik kelautan untuk menganalisis dan mendesain bangunan di perairan yang kokoh menghadapi gelombang, arus, hingga badai (terkuat) sekalipun.

3.  Offshore Engineering

Menurut banyak orang, jurusan ini (katanya) merupakan jurusan paling menggiurkan karena memiliki peluang tinggi untuk membangun jenjang karir di industri migas yang konon bergaji besar.  Offshore Engineering merupakan keilmuan yang berkonsentrasi dalam pembangunan anjungan lepas pantai yang biasa digunakan sebagai fasilitas dalam eksplorasi, produksi, hingga distribusi minyak dan gas ataupun struktur renewable energies (contoh: offshore wind turbine, marine current turbine, tidal barrage dll.).  Project yang biasanya ditangani oleh offshore engineers pun membutuhkan keahlian multidisiplin seperti analisis geoteknik laut, desain struktur, hidrodinamika laut, underwater piping, hingga anchoring-mooring-riser systems.

4. Maritime Studies/Manajemen Pelabuhan

Ini sebenarnya adalah jurusan paling « hot » kalau kita berada di Singapura.  Dengan tujuan utama Singapura menjadikan dirinya sebagai Global Maritime Hub, pakar manajemen pleabuhan sangat dibutuhkan untuk mengatur lalu lintas kapal dan bongkar muat dengan efektif.  Saya diingatkan kembali bagaimana (ketika masih belajar di Singapura) saya harus melakukan perhitungan bongkar muat kapal dengan container’s lift yang terotomatisasi, mengobservasi desain kapal tanker yang menampung ribuan ton batu bara yang akan dikirim ke Afrika, hingga menganalisis keamanan LNG-LPG ship-carriers, kapal yang mengangkut Natural Gas yang telah dilikuidasi dengan menjaga kondisi pressure (under 4 psi), temperature (under freezing point) untuk menjaga gas dalam bentuk liquid yang aman untuk ditransfer.

Dengan jumlah besar ahli manajemen pelabuhan yang kompeten, infrastruktur pelabuhan (terotomatisasi) tercanggih di dunia, serta posisi strategis di dalam jalur pelayaran utama (Selat Malaka), dan diapit oleh dua samudra terbesar di dunia (sama seperti Indonesia),  hal ini telah mengantarkan Singapura sebagai « pelabuhan tersibuk di dunia » selama puluhan tahun (walau sekarang telah tergeser oleh Port of Shanghai).  Industri pelabuhan pun telah menjadi tulang punggung ekonomi Singapura (selain trade and finance) untuk menjadikannya sebagai negara terkaya dengan GDP terbesar se-Asia.

Jadi dengan visi maritim pak Jokowi untuk membangun Indonesia (kembali) sebagai poros maritim dunia dengan cara menggiatkan kembali perdagangan laut dan menjamin keamanan pelayaran nasional, maka tidak diherankan sangat dibutuhkannya ahli manajemen pelabuhan Indonesia yang kompeten di masa yang akan datang.

4. Ilmu Kelautan dan Perikanan

Jurusan ini merupakan jurusan yang sedang « booming » di Indonesia sejak kemunculan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti yang ingin memperkuat identitas Indonesia sebagai negara maritim.  Berbagai upaya dilakukan oleh Ibu Susi seperti: menjaga kedaulatan teritorial laut Indonesia khususnya dalam penjagaan sumber daya alam laut, meningkatkan hasil budidaya laut nasional yang berkelanjutan, serta meningkatkan produktifitas hasil tangkap ikan untuk menciptakan bisnis perikanan yang kompetitif.  Pilar-pilar utama pembangunan dalam upaya memperbaiki kualitas maritim Indonesia membutuhkan pakar ilmu kelautan serta perikanan untuk memberi kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Ilmu kelautan dan perikanan dibekali dengan sains fundamental (biologi dan kimia) laut untuk mengembangkan penangkapan hingga budidaya hasil sumberdaya laut (perikanan, budidaya bakau, rumput laut, dll.) dengan marine technology yang telah dikhususkan dalam eksplorasi sumber daya hayati laut.  Tak hanya dibekali dengan ilmu saintifik, pakar ilmu kelautan perikanan juga memiliki kompetensi untuk mengatur regulasi eksploitasi sumber daya laut, pengelolaan budidaya laut yang berkelanjutan dan ramah lingkungan hingga mempelajari hukum laut internasional.

5. Naval Architecture/Teknik Perkapalan

Dua jurusan ini sebenarnya merupakan dua keilmuan yang cukup berbeda walaupun sebenarnya bergerak dalam bidang yang sama, yaitu industri perkapalan.  Naval architects memiliki peran dalam melakukan desain dan konstruksi kapal yang memiliki ketahanan dengan lingkungan laut (contohnya: sea-keeping, ship resistance, ship behaviour in irregular seas, etc.) sedangkan teknik perkapalan lebih cenderung dengan mechanics, energetics, dan propulsion dalam kapal (seperti: ship propulsion, internal combustion engine, thermodynamics and heat transfer).

Jurusan ini sangat dominan di Eropa karena pengetahuan dan sisi historis negara-negara Eropa yang telah berhasil mengksplorasi lautan di dunia.  Sebut saja beberapa galangan kapal berkelas dunia di Eropa seperti Antwerp Shipyard (Belgium), Rotterdam Shipyard (Belanda), Newcastle Shipyard (Inggris), dan le chantier naval de Saint-Nazaire (Prancis).  Baru-baru ini bahkan TNI-AL Indonesia membeli kapal hidro-oseanografi canggih dari Prancis untuk memetakan wilayah laut Indonesia serta alutsista laut dengan persenjataan meriam. Kapal ini bahkan diperlengkapi dengan AUV (Autonomus Underwater Vehicle) untuk melakukan pencitraan bawah laut hingga ROV (Remotely Operated Vehicle), robot autonomus yang mampu memberikan informasi visual dan mengambil material dasar laut di laut dalam.

Jangan heran jika para pakar Naval Architects atau teknik perkapalan sangat dibutuhkan untuk mendorong pembangunan kapal transportasi, tanker, hingga armada laut di Indonesia. Apalagi dengan inisiasi pembangunan « Jalan Tol Laut » (Pendulum Nusantara) oleh PELINDO beberapa tahun terakhir untuk menyeimbangkan aktivitas perdagangan Indonesia dari Barat hingga ke Timur melalui transportasi laut.

Dengan penyeimbangan aktivitas perdagangan di Indonesia melalui tol laut, siapa tahu suatu saat harga Ind*mie telur di pulau Jawa bisa sama dengan harga ind*mie telur di Papua.

6. Marine Geophysics

Marine Geophysics adalah cabang keilmuan yang mengaplikasikan metode Geofisika untuk untuk melakukan pencitraan geomorfologi hingga identifikasi lapisan geologi laut dengan menggunakan instrumen sonar.  Kembali lagi, keahlian Marine Geophysics banyak dipergunakan untuk mengeksplorasi hidrokarbon di daerah perairan dangkal hingga dalam, khususnya di Indonesia yang notabene banyak memiliki offshore oil and gas reservoir yang belum tereksplorasi.

Beberapa teknik survey pun digunakan untuk kepentingan akuisisi data dalam aktifitas exploration & development seperti Marine Hazard Survey, Side Scan sonar survey, Multibeam Bathymetric Survey, hingga Marine Geophysical Survey.  Di sinilah peran Marine Geophysicists yang bekerja dengan ahli geologi untuk melakukan akuisisi, proses, hingga interpretasi data untuk kebutuhan eksplorasi hingga pengembangan sumur migas di lepas pantai.

Sebut saja beberapa blok migas lepas pantai yang sukses dikembangkan di Indonesia seperti Blok Mahakam (Tunu, Bekapai, South Mahakam, Sisi Nubi) yang dioperasikan oleh Total E&P Indonësie, Blok gas Natuna yang dioperasikan oleh PremierOil, hingga blok laut Jawa yang dioperasikan Pertamina Hulu Energy Offshore North West Java (PHE-ONWJ).  Hingga saat ini, peran dari ahli Marine Geophysics sangat dibutuhkan sebagai frontliner eksplorasi migas di lepas pantai Indonesia.

————————————————————————–

Lalu Dimana Posisi Oseanografi ITB?

Seperti dijelaskan di atas, Ilmu Oseanografi sebenarnya terpecah dalam 4 bidang konsentrasi yaitu chemical oceanography, biological oceanography, physical oceanography dan geological oceanography.  Oseanografi ITB sendiri memiliki bidang konsentrasi Physical Oceanography, keilmuan yang menggunakan fisika fundamental untuk menjelaskan fenomena pergerakan arus, gelombang, pasang surut laut (physical process in the ocean), interaksi laut dan atmosfer, dan peran laut dalam mempengaruhi iklim bumi.

Salah satu kekuatan dari alumni oseanografi-ITB adalah kemampuan untuk membuat simulasi numerik arus atau gelombang laut menggunakan bahasa pemrograman (C++, Fortran, Phython, Matlab, dll.) dan perangkat lunak pemodelan (MIKE21, SMS, DELFT 3D, dll.) untuk melakukan pengamatan berbagai fenomena alam di laut. Pendekatan dengan menggunakan pemodelan komputasi, selain mengurangi biaya secara signifikan jika dibandingkan dengan model fisik (laboratorium), akan memberikan kebebasan dalam dimensi ruang dan waktu untuk melakukan simulasi.

Contoh beberapa aplikasi pemodelan yang secara umum dilakukan oleh physical oceanographer adalah model dinamika arus laut (untuk pemetaan ocean thermal dan laju migrasi perikanan), model tumpahan minyak (drill-cutting waste atau oil-spill), model persebaran polutan (dari limbah industri), model transport sedimen (untuk dredging dan ekskavasi muara sungai),  model persebaran termal dari buangan PLTU, model gelombang (untuk desain pelabuhan dan reklamasi pantai), hingga model tsunami (untuk pemetaan bencana serta rencana mitigasi bencana laut).

Untuk memperdalam kompetensi dalam memproses dan menginterpretasi proses fisika laut secara simulasi numerik dan fisik, sarjana oseanografi dibekali keilmuan dasar seperti:

  1.  Hidrodinamika dan Mekanika Fluida
  2.  Arus, Gelombang dan Pasang Surut Laut
  3.  Metode Numerik
  4.  Pemodelan Lingkungan Laut
  5.  Analisis Data dan Analisis Sinyal Oseanografi
  6.  Transpor Sedimen Laut
  7.  Komputasi Oseanografi
  8.  Fisika Matematika
  9.  Termodinamika
  10.  Pemodelan Oseanografi
  11. Tsunami
  12. Energi Terbarukan Laut
  13. Selam dan Navigasi Laut (Snorkling dan Scuba Diving)
  14. Survei Oseanografi

Merajuk dengan kompetensi di bidang survei oseanografi, selain dengan kemampuan melakukan interpretasi dan pengolahan data oseanografi, para oseanografer memiliki keahlian untuk mengakuisisi data lapangan dengan menggunakan instrument oseanografi.  Selama perkuliahan, kami diberikan field exposure selama berkala di laut untuk belajar menggunakan instrument kelautan di lapangan.  Penggunaan instrument oseanografi di lapangan seperti ADCP-Aqua Doppler Current Profiler (untuk akuisisi data arus laut berlapis), Valeport Wave Recorder (akusisi data gelombang), Echosounder-Multi and Single Beam (akuisisi batimetri laut), Real Time Kinematic GPS (akuisisi data koordinat), automatic and manual tide gauge (pengukuran pasang surut laut), dan CTD tools (akuisisi data Conducitvity, Temperature, dan Density) sudahlah tidak asing lagi bagi kami.

Dengan kemampuan mengakuisisi data di lapangan serta fondasi sains untuk melakukan proses dan interpretasi data oseanografi, maka ahli oseanografi mampu menjadi jembatan antara sains dan teknik dalam aplikasi ilmu kelautan di bidang eksplorasi, konstruksi, hingga sumber daya hayati.  Dengan kompetensi yang dimiliki, tak heran jika sarjana oseanografi bisa sangat fleksible untuk melanjutkan spesialisasi dalam bidang sains maupun teknik di industri maritim ataupun bekerja di berbagai industri strategis.  Sebagai contoh, beberapa alumni Oseanografi yang melanjutkan studi dalam bidang kemaritiman:

  1.  Jefry Simanjuntak (OS-ITB ’10)Master of Hydrodynamics and Ocean Engineering, Ecole Centrale de Nantes-France (Beasiswa Perusahaan Migas Prancis)
  2. Valen Rangga Gerina (OS-ITB ’09) Master of Maritime Engineering Science: Naval Architecture, University of Southampton – UK (Beasiswa LPDP)
  3. Hugo Samudra Putuhena (OS-ITB ’09) – Ph.D in Basin and Petroleum Geosciences, University of Manchester – UK (Beasiswa LPDP)
  4. Fuad Azminuddin (OS-ITB ’11) – Master of Integrated Ocean Sciences, Korea University of Sciences and Technology (Beasiswa Pemerintah Korea)
  5. Annisa Aulia Handika (OS-ITB ’09) –  Master of Physical Oceanography and Climate, University of Southampton – UK (Beasiswa LPDP)
  6. Yitno Suprapto (OS-ITB ’11) –  Aquaculture and Marine Resource Management, University of Wageningen – Netherlands (Beasiswa LPDP)
  7. Andaru Katri Lasrindy (OS-ITB ’09) – Master of Engineering in Coastal Environment, University of Southampton – UK (Beasiswa LPDP)
  8. Adrian Hendra (OS-ITB ’10) – Master of Maritime Studies, Nanyang Technological University – Singapore
  9. Zahra Akbar Ariadji (OS-ITB ’09) – Master of Oceanography, University of Southampton – UK (Beasiswa LPDP)
  10. Hanif Santyabudhi (OS-ITB ’10) – Master of Marine Geology and Geophysics, University of Southampton – UK (Beasiswa LPDP)

Nama-nama di atas hanyalah segelintir alumni oseanografi yang saya ketahui dari tiga tahun terakhir melanjutkan studi master di luar negeri dengan bidang spesialisasi yang berbeda-beda (dan masih banyak lagi alumni oseanografi-ITB yang melanjutkan studi master & doktoral luar negeri dan belum berhasil ditracking).  Saya jadi ingat kala itu ketika mendaftar beasiswa LPDP pada tahun 2015, waktu itu ada 10 orang alumni mendaftar beasiswa tersebut pada periode seleksi bulan April.  Herannya, dari 10 orang yang mengikuti seleksi beasiswa LPDP, ada 9 orang yang dinyatakan diterima untuk mendapatkan beasiswa tersebut (success rate hingga 90 %) dan 1 orang tidak diterima (yaitu saya) karena mengundurkan diri dari seleksi setelah menerima beasiswa lain.  Mungkin inilah yang disebut « lulus di saat yang tepat« .  Berbagai kesempatan bagi keprofesian kelautan semakin terbuka lebar karena tepat pada tahun yang sama Presiden Jokowi menyatakan visi pembangunan Indonesia Maritim sehingga salah satu implikasinya, beasiswa LPDP memprioritaskan studi Master dan Doktoral di sektor kelautan sebagai prioritas utama.

Tidak kalah dengan alumni oseanografi yang melanjutkan studi master dan doktoral, alumni oseanografi lainnya membangun jenjang karir di dunia professional seperti:

  1. Marine Seismic Engineer – POLARCUS Dubai
  2. Metocean Engineer – FUGRO Singapore
  3. Construction Engineer – SAIPEM Karimun
  4. Wireline Field Engineer – Schlumberger
  5. Structure Associate Engineer – PT DSME Indonesia
  6. Dredging and Reclamation Supervisor – Royal Haskoning DHV
  7. Field Engineer – Cougar Drilling Solution Singapore
  8. Coastal Engineer – DHI
  9. Well Intervention Engineer – Total E&P Indonésie
  10. Sales and Support Engineer – PT. Hidronav Tehnikatama

Beberapa notable alumnaes dari oseanografi-ITB pun banyak yang telah malang melintang di dunia riset serta Industri, berkontribusi di Indonesia hingga dunia Internasional seperti:

  1. Prof. Safwan Hadi, Ph.D, alumni Hawaii University, USA, Guru Besar Oseanografi ITB
  2. Dr.Eng. Hamzah Latief, alumni Tohoku University, Jepang, Ahli Tsunami Indonesia
  3. Dr.rer.nat Dadang Kurdniadi Mihardja, alumni University of Hamburg DEU, Jerman, Dosen Senior Oseanografi-ITB
  4. R. Dwi Susanto, Ph.D, alumni Massasuchets Institute of Technology, USA, Senior Researcher di University of Maryland
  5. Nurana Indah Paramita, CEO PT.  T-Files Indonesia (Perusahan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut)

————————————————————————–

Lah, terus kenapa jurusan kelautan/oseanografi di Indonesia kesannya tidak laku?

Kalau setelah membaca tulisan ini anda masih bingung kenapa jurusan kelautan/oseanografi memiliki kesan tidak prospektif di masa depan bagi kebanyakan orang, jangan merasa bersalah, karena hingga sekarang pun saya bingung kenapa banyak orang masih memiliki paradigma untuk menganggap sebelah mata pentingnya keahlian ini untuk membangun identitas maritim Indonesia.  Mungkin inilah yang Presiden Jokowi selalu katakan untuk melakukan « Revolusi Mental » agar berhenti « Memunggungi Laut » padahal demand dan tanggungjawab para penggiat profesi kelautan cukup besar bagi salah satu negara dengan luas wilayah laut terbesar di dunia..

Sejauh ini, saya mencoba mengkutip beberapa pemikiran yang selalu terlintas di benak dan dikatakan banyak orang:

1.   « Wah kenapa ambil jurusan kelautan (Oseanografi), bro? Kenapa gak ambil jurusan teknik yang lebih prestigious aja? »

Ini adalah salah satu perkataan yang paling sering saya dengar.  Kesannya,  ketika mengambil jurusan kelautan karena tidak bisa ambil jurusan (teknik) lain yang lebih prestigious.  Padahal jika disadari, profesi kelautan memiliki demand yang tinggi di dunia industri dan memiliki kesempatan yang besar ketika mengetahui bahwa pembangunan Indonesia akan berporos di laut.  Berbagai jenis kemampuan teknis dan non-teknis profesi kelautan dibutuhkan untuk membangun industri maritim Indonesia dari Barat hingga Timur.  Berbagai proyek pembangunan kemaritiman seperti pembangunan pelabuhan di berbagai regional di Indonesia,  peningkatan efektifitas transportasi laut untuk perdagangan melalui Pendulum Nusantara,  peningkatan produktifitas budidaya dan penangkapan ikan laut, eksplorasi migas lepas pantai, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan laut di Indonesia merupakan segelintir proyek yang sedang dikerjakan di dalam negeri.

Tidak kalah dengan berbagai jurusan lain yang dikatakan prestigious, profesi kelautan memiliki perannya sendiri untuk membangun sektor kemaritiman Indonesia.  Menurut saya, tidak ada jurusan yang kalah penting dengan jurusan lainnya karena pada akhirnya untuk menyelesaikan suatu permasalahan teknik dibutuhkan kolobrasi lintas disiplin.

2.   « Wah jangan ambil Oseanografi, bro, nanti susah cari kerja »

Kalau ini, menurut saya adalah argumen paling klise yang pernah saya dengar. Perkataan yang saya sering  dengar ini saya anggap tidak memiliki argumen yang kuat ketika melihat realita yang terjadi pada job hunters dalam bursa dunia kerja.  Sudah cukup jelas bahwa demand dalam dunia industri memiliki standar yang tinggi untuk menyaring para kandidat terbaik yang memiliki prestasi akademik yang baik, kefasihan berbahasa asing internasional (Bahasa Inggris), kemampuan sosial interpersonal, hingga pengalaman organisasi/keprofesian (internship).

Tahun demi tahun akan selalu muncul para pesaing baru yang memiliki kompetensi tinggi untuk merebut kursi pekerjaan yang terbatas.  Maka dari itu patut disadari bahwa kampus dijadikan « wahana bermain » untuk mengeksplorasi bakat dan kemampuan, memperkaya pengalaman, membangun jaringan dan « mencoba gagal«  sebanyak-banyaknya.

Memang faktor eksternal sangat mempengaruhi peluang dalam mencari pekerjaan, namun jika kita dapat lihat bahwa sedang tingginya demand dunia kerja di industri kelautan dan berbagai kesempatan yang semakin terbuka lebar di bidang kemaritiman Indonesia, tidak perlu menyalahkan jurusan « kelautan » sebagai justifikasi susahnya mencari kerja.  Di kampus lah kita belajar sebanyak-banyaknya dan memantaskan diri sebaik-baiknya agar kita layak ditempatkan dimana saja.

Karena masa depan sungguh ada,dan harapanmu tidak akan hilang. (Prov 23:18)

3.   « Wah kenapa ambil sains kelautan (Oseanografi), bro? Habis ini mau lanjut kuliah sampai S3? Mau jadi peneliti yaa?« 

Lalu apa salahnya kalau jadi peneliti? sangat disayangkan bahwa sekarang ini di Indonesia masih memiliki mindset bahwa menjadi peneliti adalah suatu keprofesian yang terbelakang karena kebanyakan harus bekerja di institusi pemerintahan yang (konon katanya) bergaji (cenderung) rendah dibandingkan kerja di swasta.  Padahal sebaliknya di luar negeri, semenjak menjadi Ph.D student, para peneliti sudah dianggap sebagai golongan yang diperlakukan layaknya profesional, memiliki banyak benefits, bahkan cenderung prestisius karena memiliki high academic profile serta kontribusinya di bidang riset dan teknologi.

Selama saya di Oseanografi, kita ditanamkan untuk selain harus bisa menghadapi tekanan yang tinggi untuk menyelesaikan problem saintifik menggunakan pengetahuan dasar matematika-fisika-kimia, kita diajarkan untuk memiliki pola pikir yang terstruktur dan sistematis, memberikan pendapat dengan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan, menjunjung nilai integritas sebagai insan akademis, dan mampu untuk melihat permasalahan secara global maupun makroskopis.

Seperti penjelasan sebelumnya, ahli oseanografi memiliki peran untuk menjembatani antara sains dan teknik untuk kebutuhan aplikasi ilmu dan pengembangan industri kelautan.  Kuatnya pemahaman fundamental dalam sains akan memberikan kemampuan fleksibilitas untuk melanjutkan spesialisasi di bidang industri kemaritiman seperti konstruksi, eksplorasi, energi, lingkungan, dan eksploitasi sumberdaya laut.  Faktanya, banyak sarjana kelautan mampu mengambil kesempatan untuk berkarir di berbagai bidang spesialisasi dalam dunia kemaritiman.

Toh lagian menurut saya, pendidikan (setinggi-tingginya) merupakan investasi jangka panjang yang tidak akan ada ruginya.  Tidak bisa dipungkiri bahwa selain menjadi peneliti yang mampu berkarya di bidang akademis, sekarang banyak para lulusan doktor yang mengisi jabatan strategis nasional di pemerintahan dan dunia industri.

————————————————————————–

Gerakan untuk Berhenti Memunggungi Laut!

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan pesan, seperti yang diutarakan oleh Presiden Jokowi pada pidato kepresidenan pertama, bahwa sudah saatnyalah kita « berhenti memunggungi laut ».  Sudah saatnya kita « berevolusi mental » untuk menyadari bahwa masa depan Indonesia berada pada kekuatan Maritim dan tugas kitalah untuk memperkuat identitas maritim Indonesia melalui sains dan teknologi.

Patut disadari bahwa untuk membangun Indonesia sebagai « Poros Maritim Dunia » , dibutuhkan banyak sekali para pakar kelautan yang yang kompeten di berbagai bidang spesialisasi kemaritiman seperti manajemen pelabuhan, eksplorasi, oseanografi, perikanan, hukum laut internasional, hingga regulasi kelautan.  Ketika « besi menajamkan besi, Manusia menajamkan sesamanya (Proverbs 27:17), disitulah tugas para pakar kelautan untuk berkolaborasi untuk menjalankan tanggungjawabnya mengembalikan Indonesia dalam kejayaan maritim.

Jalasveva Jayamahe, di laut kita jaya!

“Kita ingin menjadi bangsa yang bisa menyusun peradabannya sendiri.  Bangsa besar yang kreatif yang bisa ikut menyumbangkan keluhuran bagi peradaban global. Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Samudra, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva Jayamahe, di Laut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek moyang kita di masa lalu, bisa kembali membahana” 
 (Ir. H. Joko Widodo, 2014)

Only by Christ’s grace and favor,

Jefry Simanjuntak,

Den Haag, 6 Agustus 2016

Collected notes:

« Kenapa jurusan Kelautan/Oseanografi [ITB] tidak prospektif di Indonesia (katanya)? »  

« THE THEORY OF WALKING WITH THE INFINITE GOD »

How Could I [almost failed] Obtain This ITB-Oil and Gas Company’s Master Scholarship

« The Theory of Walking with the Infinite of God » part 2

« Kenapa Tuhan Menempatkan Saya di Jurusan Oseanografi-ITB? »

LES DËFIS DE COURS DE FRANÇAIS – ËCOLE CENTRALE DE NANTES

Le Défi 5 – La Critique des films français

Le Défi 4 – À La Découverte d’une Nouvelle Expérience en France 

Le Défi 3 – La Recette de La Crêpe au Beurre Salé 

Le Défi 2 – À La Découverte de La Vie Interculturelle des Français 

Le Défi 1 – La Cantine du Curé: Voici La Meilleure Crêperie À Nantes

3 réflexions sur “« Kenapa jurusan Kelautan/Oseanografi-ITB tidak prospektif di Indonesia? *(katanya) »

  1. nice share gan
    iya gan, menurut ane paling banyak mungkin masih ada orang yang mengira kalo jurusan « ga terkenal » itu susah cari kerja. Padahal kalo udah kerja nanti malahan banyak belajar hal baru dan ga terpaku dengan jurusan waktu kuliah. Terutama orang lapangan ya. Gitu sih yang ane rasain. Hehe

    J'aime

  2. maaf, sudah pernah bekerja di dunia kelautan? nanti kalau sudah selesai kuliahnya dan bekerja, boleh dishare lagi pengalamannya ya dik. Sukses dgn studinya…

    J'aime

  3. NICE SHARE KAKK…
    Jujur, aku emang pengen masuk ose cuma… ya gitu « katanya » ntar kaya gini lah, gitu lah.. tapi setelah baca ini, kayanya mereka salah dan aku pengen ngebuktiin sendiri mereka emang salah..
    Ditunggu pengalaman lainnya kak :))

    J'aime

Votre commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l’aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion /  Changer )

Photo Google

Vous commentez à l’aide de votre compte Google. Déconnexion /  Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l’aide de votre compte Twitter. Déconnexion /  Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l’aide de votre compte Facebook. Déconnexion /  Changer )

Connexion à %s